Ketika Menikah Tak Semudah Harapan

Sudah pengen nikah? Atau sudah melabeli diri “Saya sudah butuh nikah”? Tapi, orang tua punya argumen-argumen lain yang seolah “menghalangi” pernikahan?
Ketika Menikah Tak Semudah Harapan inilah butuh ilmu.
Kita simak twit dari Ustadz Salim A. Fillah berikut.
Ketika Menikah Tak Semudah Harapan
Menuju nikah; menjelaskan patokan syari’at yang diyakini kepada orangtua jadi indah jika diiringi kefahaman kita terhadap kesulitan mereka;)
Adalah bagian dari kedewasaan; kemampuan menyampaikan nilai syar’i dalam nikah yang kan dijalani; dengan akhlaq mulia, tutur lembut & cinta.
Allah menyifati hubungan kita & orangtua dengan indah; “Wa SHAHIBhuma fiddunya ma’rufa.” Dan PERSAHABATILAH keduanya. Mesra & memuliakan.
Bahkan kalimat PERSAHABATILAH itu disebutkan setelah, “Jika memaksa syirik, jangan ditaati”; maka apatah lagi orangtua yang muslim & mukmin.
Betapa mereka berhak atas kalam-kalam mulia; ucapan lembut; pengertian yang menentramkan; & akhlaq mulia yang bercahaya. Kapan & di manapun.
Di antara pintu kesalingfahaman dengan orangtua; bedakan, mana yang melanggar syari’at; mana yang tampaknya begitu padahal hakikatnya tidak.
Semisal; dilarang menikah dengan beda suku. Orangtua memiliki alasan yang mungkin tak tepat. Ia masih memungkinkan diluruskan agar shahih.
Sebab fiqihpun mengetengahkan konsep KUFU yang dengannya kenyamanan berrumahtangga dijaga. Bahkan ‘Umar berkata, “‘Arab & ‘Ajam tak sekufu.”
Para Ulama menjelaskan, KUFU mutlak cuma soal agama, selainnya nisbi. Maka atsar ‘Umar difahami; jika menikah tanpa bersiap saling memahami.
Demikian pula orangtua kita lalu difahamkan; “Menikah beda suku mengandung bahaya; jika tidak disertai kesiapan & komitmen saling memahami.”
Contoh lain; tidak boleh menikah jika kakak belum menikah. Dilarang melangkahi. Mungkin orangtua punya alasan tak tepat. Jadi luruskan saja.
Bahwa orangtua khawatir anaknya yang lebih tua kesulitan mendapat jodoh; bahwa orangtua takut menyinggung perasaan si kakak; WAJIB DIFAHAMI.
Maka jangan cuma memaksa sambil berseru, “Jodoh kan datangnya masing-masing! Mati aja gak harus urut! Nikah juga dong!” Tapi ajukan solusi.
Mengapa tak sejenak bersabar; sembari berjuang carikan calon pasangan untuk kakak kita? Bukankah ia ahsan adanya? Dan Allah akan memudahkan.
Alangkah hangat & akrab keluarga kita; jika kita memahami kekhawatiran orangtua, membantu mencari jalan keluar tuk kesulitan kakak tercinta.
Contoh lebih lanjut; pamali menikahkan 2 anak berturut-turut dalam 1 tahun. Luruskan jika memang alasan orangtua karena kepercayaan batil.
Tapi bukankah kita juga harus mengerti bahwa mantu 2 kali dalam 1 tahun itu berat dari sisi keuangan; jua ada segan pada kerabat & tetangga?
Jikapun tidak soal keuangan; fahami perasaan orangtua pada mereka-mereka yang direpotkan. Itu beban. Alangkah ahsan jika kita bertenggang:)
Maka pada ‘jangan langkahi kakak’ & ‘jangan mantu setahun 2 kali’ misalnya; tawarkan kompromi indah; 1 walimah tuk 2 pasang putra-putrinya.
Saya penganjur penyegeraan nikah & melakoninya di usia 20 tahun. Tapi saya memberi catatan soal komunikasi ikhwan-akhwat pada orangtuanya.
Mari segerakan pernikahan; sekaligus mari didikkan kedewasaan; dan mari tegakkan bakti setinggi-tingginya pada Ayah-Bunda; Shalih(in+at;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *